Jumat, 04 Januari 2013

PUASA ENAM HARI DIBULAN SYAWAL

A. Makna Bulan Syawal

Syawal adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriah. Syawal, secara bahasa, artinya 'naik'.  Bulan Syawal bisa diartikan bulan naik. Dinamakan demikian karena pada bulan ini bila orang Arab hendak naik unta dipukul belakang unta, ekor unta menjadi naik, sedangkan pada bulan lain tidaklah demikian halnya. Bagi umat islam, bulan Syawal memiliki makna tersendiri. Karena, pada bulan itu umat islam usai menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Namun, nyaris tidak ada penyambutan terhadap datangnya bulan syawal. Berbeda dengan kerika menyambut bulan Ramadhan, biasanya kita mengucapkan 'Marhaban Ya Ramadhan'! Tapi untuk bulan Syawal, tidak pernah kita dengar orang mengucapkan 'Marhaban Ya Syawal'! padahal, Syawal juga bulan istimewa dan memiliki keutamaan. Inilah beberapa keistimewaannya:

1. Bulan Kembali ke Fitrah

Syawal adalah bulan kembalinya umat islam kepada fitrahnya, diampuni semua dosanya, setelah melakukan ibadah Ramadhan sebulan penuh. Paling tidak, tanggal 1 Syawal umat Islam "Kembali Makan Pagi" dan diharamkan berpuasa pada hari itu. Bulan Syawal merupakan lambang kemenangan bagi umat islam setelah 'berperang' mrelawan musuh dalam jiwa yang terbesar, yaitu "hawa nafsu".

2. Bulan Takbir

Tanggal 1 Syawal, Idul Fitri, seluruh umat Islam diberbagai belahan mengumandangkan takbir. Maka, bulan Syawal pun merupakan bulan dikumandangkannya takbir oleh seluruh umat Islam secara serentak, paling tidak satu malam, yakni begitu malam memasuki tanggal 1 Syawal alias Malam Takbir, menjelang sholat Idul Fitri. Kumandang takbir merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan ibadah Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai, kecuali dengan pertolongan-Nya. maka umat Islampun memperbanyak Dzikir, Takbir, Tahmid, dan Tasbih. "Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Ia memberi Petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan." (QS. Al-Baqoroh: 185).

3. Bulan Silaturahmi

Dibandingkan bulan-bulan lainnya, pada bulan inilah umat Islam sangat banyak melakukan amaliah silaturahmi, mulai mudik kekampung halaman, saling bemaafan dengan teman atau tetangga, hala bihalal, kirim sms dan telepon, dan sebagainya. Betapa Syawalpun menjadi bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah karena umat Islam menguatkan tali silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah.

4. Bulan Pembuktian Taqwa

Inilah makna terpenting bulan Syawal . Setelah Ramadhan berlalu, pada bulan Syawal-lah "Pembuktian" berhasil-tidaknya ibadah Ramadhan, utamanya puasa, yang bertujuan meraih derajat takwa. Jika tujuan itu tercapai, sudah tentu seorang Muslim menjadi lebih baik kehidupannya, lebih sholeh perbuatannya, lebih dermawan, lebih bermanfaat bagi sesama, lebih khusyu' ibadahnya, dan seterusnya. Paling tidak, semangat beribadah dan berdakwah tidak menurun setelah Ramadhan.

5. Puasa Satu Tahun

 Amaliah yang ditentukan Rasulullah saw pada bulan Syawal adalah puasa sunah selama enam hari, sebagai kelanjutan puasa Ramadhan. "Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh" (H.R Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah).

B. Puasa Sunah Syawal

Puasa enam hari dibulan Syawal hukumnya sunah. Imam Abu Hanifah, Syafi'i, dan Ahmad menyatakan hukun puasa enam hari pada bulan Syawal adalah Sunah. Istilahnya Istihbab (disukai atau disunahkan) untuk malaksanakannya. Hal ini dilandasi oleh hadits Nabi berikut ini. Abu Ayyub menyebutkan  bahwa Rosulullah saw bersabda: "Siapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan melanjutkannya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka itulah puasa setahun penuh." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
Abu 'Umar Ibnu 'Abdil Barr berkata dalam Iqna', disunahkan berpuasa enam hari dibulan Syawal, meskipun dilaksanakan dengan terpisah-pisah. Keutamaan tidak akan diraih bila berpuasa diluar bulan Syawal. Seseorang yang berpuasa enam hari dibulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.

C. Praktik Pelaksanaan Puasa Syawal

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan terkait dengan pelaksanaan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Hal-hal tersebut adalah:

1. Boleh Dilakukan Tidak Berurutan

Hadits Nabi menyebutkan, "Siapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dan melanjutkannya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka itulah puasa seumur hidup." (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa sunah Mustahabah (disunnahkan) untuk melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal. Tapi, jika seorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, itu juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.


Para ulama Mazhab Syafi'i berpendapat, jelas Imam an-Nawawi, paling afdhol (utama) melakukan puasa Syawal secara berturut-turut (sehari) setelah sholat 'Idul Fitri. Namun, jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa Syawal tiga hari setelah Idul Fitri misalnya, baik secara berturut-turut maupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa Syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan, maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Apabila seseorang memiliki Udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari dibulan Syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qadha (mengganti) puasa Syawal tersebut dibulan Dzulqadah. Hal ini tidaklah mengapa.

2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan

Para ulama fiqih berpendapat bahwa jika seseorang tertingal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa qadha terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan enam hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan enam hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.

3. Dilakukan mulai tanggal 2 Syawal lebih baik

Allah swt berfirman: "Berkata Musa: 'Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau Ridho padaku." (QS. Thaha: 84) Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa memang afdhil-nya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari secara berturut dan secara langsung. Allah berfirman, "Maka berlomba-lombalah kalian dalm kebaikan." (QS. al-Maidah: 48)
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar